Halaman

wahai merpati, pinjami aku sayap-sayapmu

Wahai merpati, pinjami aku sayap-sayapmu
ingin sekali aku terbang, hanya untuk mencari sekeping hati yang terbuang
menelusuri langkah-langkah yang sempat dulu tertinggal
cangkel rasanya hidup dengan hanya sekeping hati
sebab sekeping lagi masih aku cari

wahai merpati, pinjami aku sayap-sayapmu
ingin kuputar jarak yang telah aku lewati
ingin kulukis kisah-kisah indah yang dulu sempat tertunda
hanya untuk menyambung kenangan lalu yang kini menjadi harapan

wahai merpati, pinjami aku sayap-sayapmu
karna sayap-sayapku telah patah bersama lelahnya jiwa
harapku sempat mati untuk mencari sekeping hati
jalanku terbentang panjang bersama sayap yang hilang

aku bagaikan embun yang selalu merindukan pagi

aku bagaikan embun yang selalu merindukan pagi
ia hadir walau harus mati bersama gerangnya mentari
aku berada pada jiwa yang menggigil dalam pelukan sunyi
tak ada hangat walau sehangat mentari
hanya sedikit sejuk yang tersisa menyelimuti rasa

tuan, izinkan aku untuk menjamah cahayamu
agar suasana hati tak segelap malam hari
hingga warna-warni pagi dapat kutanggkap
dan cinta yang berceceran dapan kurapikan kembali
terangilah ia walau hanya dengan setitik cahayamu
agar semua hak-hak bisa tampak di kelopak mata

aku bagaikan embun yang selalu merindukan pagi
cintaku, tak dapat aku katakan cinta
meski setiamu selalu aku yakini keabadiannya
aku tetap tak ingin katakan aku cinta kamu
bagaikan embun yang selalu merindukan pagi
walau tanpa kata, ia selalu kaya dengan arti cinta
itulah setiaku padamu

aku bagaikan embun yang selalu merindukan pagi
selalu setia untuk menyejukan suasana
tak perduli, dengan lemparan cacian dan cemoohan yang selalu bertubi-tubi datang menamparku
ini kuungkapkan semua, bukan bermaksud riya
percayalah, sejukku takkan sirna bersama lenyapnya dunia...

aku masih dalam pelukan sunyi

aku masih dalam pelukan sunyi
langkahku gontai, tak tahu kemana kaki melaju
pagi pun tetap membisu
enggan rupanya, ia menceritakan langkahku
tak ada satu pun kata yang dapat kupegang
sebagai penasihat arah dan tujuan langkah kaki melangkah

aku masih dalam pelukan sunyi
bersama pagi, sunyi masih tetap sunyi
hanya segelintir mimpi yang mulai melenyapkan sunyi
namun sayang, mimpi itu tak pasti
dekapan sunyi seakan memenjarakan hati

aku masih dalam pelukan sunyi
tubuhku
jiwaku
anganku
semua dalam pelukan sunyi
ingin sekali kubebaskan diri
dan kusingkap segenap tirai yang menghentikan langkah kaki

aku masih dalam pelukan sunyi
mengharap belas kasihanmu illahi
hangatkan jiwa ini dengan selimut kasihmu

Sapa Senja Bersama Santun Darinya

Sapa senja bersama santun darinya
aku tak mengerti
aku tak mengerti
aku tak mengerti
kau selalu peluk aku dalam sebuah tanda tanya palsu
sapamu tak dapat terungkap dengan kata-kata
santunmu tak bisa kulukis dengan warna tinta
aku tak mengerti
sungguh sapa dan santunmu adalah sebuah misteri

sapa senja bersama santun darinya
semburat jingga mulai memancar menerangi rongga-rongga
dikejauhan sana terlukis seikat senyum manis memesona
menambah keindahan jingga melenyapkan buncah sapanya
namun tiba-tiba senyuman itu tenggelam
bersama awan bertahtakan kelam
mungkin ia menyembunyikan diri dibalik jubah hitam sang malam

sapa senja bersama santun darinya
seikat senyum malu-malu menghiasi jingga itu
namun terkadang ia lenyap bersama tenggelamnya sang surya
o,,, gejolak jiwa apa yang sedang ia rasa
sebuah tanda tanya dibalik semburat jingga
bergelayut dalam rongga dada
membisikan sebuah santunan mesra

sapa senja bersama santun darinya
sapanya membuat jiwa membuka tanya
aku tak mengerti
sungguh, santunmu terbalut misteri. meski sering kali kau bergelayut dalam hati, kau bagiku tetap misteri

Aku Bersama Firmanmu

Aku bersama firmanmu
menyentuh jiwa dari kedalaman rasa yang terkadang bercampur emosi
mencoba menyatukan raga bersama firmanmu
seketika nafsu membisu nan lugu tak bersuara
mutiara-mutiara yang tersimpan bagaikan sebuah mimpi sepanjang malam
menceritakan kisah-kisah nyata zaman dulu kala

Aku bersama firmanmu
menelusuri langkah mencari setitik cahaya
bagaikan seorang pengembala yang bermalam di hutan rimba
tengok kanana, tengok kiri
mencari-cari celah untuk melangkahkan kaki

Aku bersama firmanmu
bertanya-tanya dan berkata-kata
terkadang jiwa menyelami lautan maknanya
ternyataa,,, terlalu dalaam,,,
sungguh takkan ada yang mampu menyelami sampai kedasarnya
aku pun tak mampu walau untuk menyentuh tepinya saja

Aku bersama firmanmu
mencoba menebak arti aksara demi aksara
membongkar runtuyan kata yang tersusun rapi dan tertata
keindahan retorika selalu terselip di setiap jeda irama
bagaikan sebuah syair yang dapat menyihir

Aku bersama firmanmu
menciptakan kesejukan senja yang mulai tergantikan malam
Kala jiwa sepi, ia selalu hadir memeluk dan mengobati
mereka mengatakan kau adalah pengobat hati
firmanmu kini selalu kudampingi